Hari ini, saya menghabiskan waktu keliling kota dengan sobat kental saya setelah lama tidak menjamahnya
setelah 1 jam menghabiskan waktu membanggakan suara sendiri kami beranjak ke tempat ibadah
berhubung hanya saya yang menunaikan ibadah saat itu, maka saya masuk ke masjid sendirian
disalamnya, sedang diadakan semacam mini pengajian
karena pesertanya tidaklah banyak, hanya 3 orang wanita dan entah berapa pria yang tidak tertangkap pandangan
forum kecil ini sedikit membuat saya rikuh karena harus mengambil mukena yang sialnya, terletak di belakang sang ustad yang sedang memberikan pencerahan maha dasyat pada peserta forum
mereka rata rata berumur diatas 50 tahun
sebelum dan setelah beribadah, saya menyempatkan diri mendengarkan pengajian ini
siapa tahu, saya dapat ilmu
… ucapkan ini 100 kali, maka akan mendapatkan pahala..
…di hari kiamat akan… (intinya dimuliakan)
… tidak ada nganggur, karena bisa beribadah..
….setiap detik itu bisa dimanfaatkan untuk ibadah…
sesungguhnya, inti pemikiran saya bukan soal ibadahnya
tetapi sang ustad
bukan maksud saya mencela
hanya saja melihat beliau, membuat saya menggumam dalam hati
“apa iya beliau sudah melakukan hal hal seperti yang dikatakannya?”
sesungguhnya, 1 hal yang ingin saya angkat disini adalah kemunafikan
bukan berarti saya dengan seenaknya menghakimi bahwa sang ustad itu munafik
saya hanya ingin mengupasnya secara umum
saya rasa banyak dari kita yang terlalu banyak mengumbar omongan
bahkan saya pun terkadang begitu
kita berbicara seakan akan begitu sempurna
absolut
menasehati orang lain dengan segala keangkuhan bahwa kita tahu mengenai secercah kebenaran
tapi saat kita menilik jauh lebih dalam
ternyata hal hal itu hanya sekedar omongan
yang hanya terlintas
tanpa sempat dilakukan
tanpa diterapkan pada hidup sendiri
maka
mulailah dari diri sendiri
mulai dari saat ini
mulai dari hal hal kecil
bukankah lebih mudah menyebarkan hal hal baik pada banyak orang saat kita bisa dengan baik melakukannya
tidak hanya dengan baik mengatakannya?
saran saya simpel dan jelas:
terapkan pada diri sendiri dulu deh, setelah itu baru diterapkan ke orang lain
May 07, 2009 @ 05:23:15
saya tidak nyinggung2 masalah religi disini
maaf apabila terdapat kkesan seperti itu
May 07, 2009 @ 15:18:17
saran yang baik.
ibukku suka ikut pengajian. rajin. belum cocok dipanggil nenek.
aku pernah tanya pengajianne klasik gak. katanya iya. alasannya macam-macam. intinya orang orang tua menganggap yang klasik itu lebih menaubatkan.
saran bagus. menghindari kemunafikan
tapi mungkin juga ia harus menyampaikan sesuatu yang belum ditunaikan. karena yang disampaikan itu penting. dan mungkin juga mendasari banyak hal.
mungkin juga ia ingin orang lain lebih baik dari dia mungkin?
May 07, 2009 @ 15:30:50
aku gak bilang nenek nenek lho
kalo kemunafikan, itu pengalaman pribadi, bang
bisa, tapi yang digarisbawahi thu orang orang yang banyak bicara supaya terlihat pintar. padahal they not that smart and they can only talk.
tapi aku setuju poin terakhirnya, selalu ada kemungkinan untuk itu
May 08, 2009 @ 06:25:03
debaters. vhat do ya think bout them?
vere they included to THEM(par. 3)? ;D
May 08, 2009 @ 08:09:28
hahaha
semua itu punya batas dan rel nya sendiri sendiri
debaters do that, cuz they’re get competition on it
kecuali kalo mereka keluar dari ‘kapasitas’
misalnya, lagi sama temen-temennya terus tiba2 melakukan hal yang saya sebutkan di tulisan saya
lagian balik lagi, semua itu toh tergantung alasan mereka
satu satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidak pastian
May 08, 2009 @ 16:00:53
abot abot..
jadi intinya,mulai terapkan dari diri sendiri?
May 08, 2009 @ 17:48:20
haha
ini topik ringan menurutku
standar aja
yep, mulai dari diri sendiri dulu
lagian percuma kan, bisa nerapin ke orang lain, tapi nerapin ke diri sendiri aja gak bisa
May 29, 2009 @ 11:04:35
hhmm.. bagus bagus..
i see